Thursday, May 14, 2009

menghargai hidup dengan mendaki gunung.

Sedikit sekali orang yang bisa memahami keadaan seseorang atau keadaan sekitarnya, jika ia tidak terjun langsung atau mengalami apa yang dirasakan seseorang dalam kehidupannya.

Pencinta Alam atau biasa disebut PA, itulah yang pertama kali orang katakan saat melihat sekelompok orang – orang ini. Dengan ransel serat beban, topi rimba, baju lapangan, dan sepatu gunung yang dekil bercampur lumpur, membuat mereka kelihatan gagah. Hanya sebagian saja yang menatap mereka dengan mata berbinar menyiratkan kekaguman, sementara mayoritas lainnya lebih banyak menyumbangkan cibiran, bingung, malah bukan mustahil kata sinis yang keluar dari mulut mereka, sambil berkata dalam hatinya, “Ngapain cape – cape naik Gunung. Nyampe ke puncak, turun lagi…mana di sana dingin lagi, hi…!!!!!!!”

Tapi tengoklah ketika mereka memberanikan diri bersatu dengan alam dan dididik oleh alam. Mandiri, rasa percaya diri yang penuh, kuat dan mantap mengalir dalam jiwa mereka. Adrenaline yang normal seketika menjadi naik hanya untuk menjawab golongan mayoritas yang tak henti – hentinya mencibir mereka. Dan begitu segalanya terjadi, tak ada lagi yang bisa berkata bahwa mereka adalah pembual !!!!!

Peduli pada alam membuat siapapun akan lebih peduli pada saudaranya, tetangganya, bahkan musuhnya sendiri. Menghargai dan meyakini kebesaran Tuhan, menyayangi sesama dan percaya pada diri sendiri, itulah kunci yang dimiliki oleh orang – orang yang kerap disebut petualang ini. Mendaki gunung bukan berarti menaklukan alam, tapi lebih utama adalah menaklukan diri sendiri dari keegoisan pribadi. Mendaki gunung adalah kebersamaan, persaudaraan, dan saling ketergantungan antar sesama.

Dan menjadi salah satu dari mereka bukanlah hal yang mudah. Terlebih lagi pandangan masyarakat yang berpikiran negative terhadap dampak dari kegiatan ini. Apalagi mereka sudah menyinggung soal kematian yang memang tampaknya lebih dekat pada orang - orang yang terjun di alam bebas ini. “Mati muda yang sia – sia.” Begitu komentar mereka saat mendengar atau membaca anak muda yang tewas di gunung. Padahal soal hidup dan mati, di gunung hanyalah satu dari sekian alternative dari suratan takdir. Tidak di gunung pun, kalau mau mati ya matilah…!!! Kalau selamanya kita harus takut pada kematian, mungkin kita tidak akan mengenal Columbus penemu Benua Amerika.

Di gunung, di ketinggian kaki berpijak, di sanalah tempat yang paling damai dan abadi. Dekat dengan Tuhan dan keyakinan diri yang kuat. Saat kaki menginjak ketinggian, tanpa sadar kita hanya bisa berucap bahwa alam memang telah menjawab kebesaran Tuhan. Di sanalah pembuktian diri dari suatu pribadi yang egois dan manja, menjadi seorang yang mandiri dan percaya pada kemampuan diri sendiri. Rasa takut, cemas, gusar, gundah, dan homesick memang ada, tapi itu dihadapkan pada kokohnya sebuah gunung yang tak mengenal apa itu rasa yang menghinggapi seorang anak manusia. Gunung itu memang curam, tapi ia lembut. Gunung itu memang terjal, tapi ia ramah dengan membiarkan tubuhnya diinjak – injak. Ada banyak luka di tangan, ada kelelahan di kaki, ada rasa haus yang menggayut di kerongkongan, ada tanjakan yang seperti tak ada habis – habisnya. Namun semuanya itu menjadi tak sepadan dan tak ada artinya sama sekali saat kaki menginjak ketinggian. Puncak gunung menjadi puncak dari segala puncak. Puncak rasa cemas, puncak kelelahan, dan puncak rasa haus, tapi kemudian semua rasa itu lenyap bersama tirisnya angin pegunungan.

Lukisan kehidupan pagi Sang Maha Pencipta di puncak gunung tidak bisa diucapkan oleh kata – kata. Semuanya cuma tertoreh dalam jiwa, dalam hati. Usai menikmati sebuah perjuangan untuk mengalahkan diri sendiri sekaligus menumbuhkan percaya diri, rasanya sedikit mengangkat dagu masih sah – sah saja. Hanya jangan terus – terusan mengangkat dagu, karena walau bagaimanapun, gunung itu masih tetap kokoh di tempatnya. Tetap menjadi paku bumi, bersahaja, dan gagah. Sementara manusia akan kembali ke urat akar di mana dia hidup.

Ya, menghargai hidup adalah salah satu hasil yang diperoleh dalam mendaki gunung. Betapa hidup itu mahal. Betapa hidup itu ternyata terdiri dari berbagai pilihan, di mana kita harus mampu memilihnya meski dalam kondisi terdesak. Satu kali mendaki, satu kali pula kita menghargai hidup. Dua kali mendaki, dua kali kita mampu menghargai hidup. Tiga kali, empat kali, ratusan bahkan ribuan kali kita mendaki, maka sejumlah itu pula kita menghargai hidup.

Hanya seorang yang bergelut dengan alamlah yang mengerti dan paham, bagaimana rasanya mengendalikan diri dalam ketertekanan mental dan fisik, juga bagaimana alam berubah menjadi seorang bunda yang tidak henti – hentinya memberikan rasa kasih sayangnya.

Kalau golongan mayoritas masih terus saja berpendapat minor soal kegiatan mereka, maka biarkan sajalah. Karena siapapun orangnya yang berpendapat bahwa kegiatan ini hanya mengantarkan nyawa saja, bahwa kegiatan ini hanya sia – sia belaka, tidak ada yang menaifkan hal ini. Mereka cuma tak paham bahwa ada satu cara di mana mereka tidak bisa merasakan seperti yang dirasakan oleh para petualang ini, yaitu kemenangan saat kaki tiba pada ketinggian. Coba deh….!!!!!!!!






sumBer:




Sunday, February 24, 2008

zona pRibadi

Sabtu, 23 februari 2008


Hai met pagi dunia…hari ini ku piker hari ynag sangat biasa dan sama seperti biasanya. Tapi ada sesuatu yang menyebalkan.. ku dah mikir apa ya yang akan kuperbuata supaya hari ini lebih berbeda, gak Cuma bangun tidur,mandi, nyiapin buku, ngambil motor dan pergi kesekolah dengan jalan yang sama selama 6 bulan terahkir. Bosen tauk..

Sesampainya di sekolah rasanya males banget, dah tau ruangannya tu kalo pagi gelap, si penjaga sekolah masih juga belum menyalakan lampu. Pertamanya kadek dah mau bilang masih belum ada si penunggu listrik dan yang kedua kususul juga masih belum ada ( walaupun hanya beda 3 menit, yang penting ikut nyusul, hehe).setengah 7 lebih 5 menit lagi dinyalain. Sementara teman-teman yang lain masih sibuk membolak-balik rumus kimia tapi memang kupikir mereka bisa (pemandangan tiap pagi kalo mau ada ulanagan). Tadi malam aku gak berhasil bangun buat belajar kimia ya udah ngikutin jejak teman-teman dengan bolak-balik tanya ma Profesor, lebih tragisnya lagi ulangan pertama kimia ku dilaporkan HILANG sejak dari pembagian sampai sekarang, entah ditangan siapa dan bagaimana nasibnya, sungguh malang kertas ulanganku padahal itu kertas merupakan sejarah besar buatku. Kertas yang bertinta hitam bak judul bernilai 100 ( hebat mecahin rekor pertama kalinya). Bel berbunyi karena waktu dah menunjukan 6.50 tapi bruder gak marah-marah menakjubkan. Bacaan injil(males ndengerin) tingal tidur aja palagi nyanyiannya sama mulu tiap pagi. Hai para penyanyi pagi lagunya ganti dunk.

Ulangan dimulai, buset susah amat kayaknya bentar lagi Pak Joko mau makan salah satu muridnya buat menelan rumus-rumus yang ada dikepala siSiswa biar dapet nilai jelek. Pak Joko besok lagi kalau ngajar yang berexpresi ya..

Matematika juga si Guru matematika cuaman keluar masuk gak karuan karena nyari soal remidi yang hilang. Keburu jamnya habis mendingan lapor kepolisi pencarian kertas siapa tahu dalam waktu 2 detik langsung ketemu (tapi hitung dulu biaya yang akan dikeluarkan). Di sisi lain ngrumpi ma Tekek soal D****l, kabarnya kita sepakat mau cari tahu tentang D****l lagi deket ma siapa gitu.

Ga mengira gak menyangka jam terahkir dateang juga. Pelajaran yang harusnya santai berubah seketika menjadi hening tak berdaya. Pak Dimas lagi menyalakan computer kayaknya sih mau nonton filem. Jam menunjukan kuran 25menit tuk beranjak pulang. Sepertinya aura mencurigakan dah mulai tercium kneapa juga harus saat itu. Benerkan kita malah gak jadi nonton pilem malah nonton tulisan anak ANDALAS tentang kerusakan lingkungan hidup.

Males banget ya udah ku dah mencoba mengalihkan perhatianku bukan buat pelajaran ini. Nampaknya wali kelas tetap saja acuh dengan situasi yang ada, sering banget kami para korban penyiaran berita gak penting mendengarkan tema APP tahun ini. Asal usul menunjukan bahwa ternyata Pak Darno adalah salah satu sie Liturgi disalah satu gereja di daerah sedayu. Masih belum bisa kulepaskan perhatian malas dengan guru yang satu ini, karena disisi lain kuBenci dan Dia benci aku ( pernah ketika itu aku ngomong gak diperhatiin malah dicuekin, dasar tua. Kalo ngobrol topiknya sama terus. Pernah hari kamis tanggal 14 Feb 2008 aku ketahuan gak berangkat extra jurnalis kan ngurusi acara YOPALA kenapa juga pas aku dimarahi, setelah aku berjalan menuju area skul, pak Darno menangkap basah aku eh bebek juga gak belain malah nunjuk-nunjuk aku gityu, dengan rasa agak bersalah ku menghampiri si bapak guru dan mendengarkan celotehannya, “ kamu coordinator berapa? Coordinator 2 pak!! Jawabku sambil cengengesan. Besok anggotanya itu diatur, coordinator kok mbolosan? Bentak si Pak Darno. Iya pak, jawabku polos. ‘ sana tanya AjenK gimana rapatnya, suruhNya. Iya pak’, jawabany masih sama. Mulai detik itu setiap kamis aku selalu dipanggil ma Pak Darno buat datang extra Jurnalis itu, sungguh malang nasibku).

Saat menegangkan terjadi. Kuambil keputusan buat main kartu (penyakit kelas selama beberapa minggu yang lalu) bukan sembarang permainan yaitu UNO. Kupikir gak masalah, ku hampiri Yuldi yang duduk dibelakang. Kami (Aku, TongJrot, Yuldi, Celengan, Mike) main kartu kocokan terus tergulingkan Mike menang. Dalam waktu itu yang duduk nyaman hanya Brian ma mike sedangkan aku berada dibelakang Brian disamping Yuldi. Si Tonk bilang turunin kartunya coz pak Darno berdiri selang beberapa detik aku kaget kenapa Yuldi bilang sembunyiiin kartunya,ya udah hanya terselamatkan beberapa lembar. Pak darno mulai marah denagn gayanya yang super f***k. dengan menyebutkan nama kami masing-masing tapi yang paling dia wanti wanti aku, Tika apa-apaan kamu ini, cewek kok mainan kartu wanita sendiri lagi,. Gak tahu malu. (dia mengankat karu UNO dan membantingnya dengan tenaga maksimal mengosak-asik kan kartu, berteriak sekenceng-kecengnya ama Yuldi, YULDI AMBIL KARTU ITU PAKE LIDAH BUKAN PAKE TANGAN) sontak kau terkejut dan bilang ma hati kecil aku, tadi malem mimpi apa ya?? Tapi tanda tanda tragis dah mulai nampak dari pagi (mulut yang gak berhenti bergerak tanpa perintah orang jawa biasa menyebutnya kedutan, kantin yang bissanya penuh desak, sepi.??) pemandangan terahkir teman-teman satu kelas diam tanpa gerakan bak patung mau disembelih. Finnaly Yuldi ngambil pake tangan dan menerima hadiah sebuah gajulan ma tongjrot juga karena posisiku jauh ya udah dengan dingkat kupikir gak usah aja. Tika mana ayo ambil, teriak si Pemarah. Masih juga belum puas kami hanya saling pandang danb suasana hening. Ku takut gak naik kelas buat nebus kesalahan ini tapi piye yo?? Celotehan yang ku gak menerti terus terlontar dari mulutNya. Kalian itu tidak menghargai saya, percuma saja

Saya siapkan materi buat kalian malah gak didengarkan, itu berarti kalian menyepelekan saya,emang pohon.!! Sayakan pernah bilang kalo pak Darno ini seperti seutas tali terkadang bisa mengikat sesuatu menjadi indah tapi terkadang bisa membuat sesuatu menjadi hancur seperti cambuk. Masih perlu aku tekankan bahwa kami gak bersalah (walaupun dah ketangkep kering). Semuanaya pulang jam 2, itu akibatnya kalau kalian berbuat sesuatu menyebabkan yang lain ikut terlibat !! suara papi Darno. Sumpeh badanku gemeter. Gak tahu apa yang gue pikirin ke depan. Kita menuju meja guru dan minta maaf, Apa gunanya minta maaf dah berbuat baru minta maaf maunya kalian bagaimana, dah duduk percuma kalian bilang seperti itu. Tetep aja kami berdiri di depan siGuru gila semua sarap yang ada ditubuhnya tegang banget kayak mau berkelahi aja. Saya gak mau bilang kalian harus begini begitu kalian itu sudah besar harusnya tahu apa yang diperbuat kalian itu punya rasa, karsa dan pikiran kenapa gak digunakan. Semua diam… gila HP ku bunyi gue ket5ekutan setengah mati gila kalo ter Hp ku disita dan di banting bakalan ada perang dunia ke-3 dirumah buset gimana nech?? Olga yang paling deket langsung masukin Hp ku k etas biar geternya gak kedengeran. Jam 2 kurang 10 menit masih juga hening tiba –tiba pak darno bilang sesuatu dan ahkirnya pergi. Kita rembugan bagaimana kita harus berbuat. Masih sunyi kupikir. Aku akan menghadap ma pak darno Satria berani mengakui kesalahan ok. Pulangnya teman-teman pada bilang sabar ya hehe…

Terus aku kut kumpul Yopala dan cerita gini-gitu. Selesai lagi ngluarin motor aku disuruh fotokopi ma anak-anak alumni. Pak supri bilang eh wanita penjudi (ya ampun nujep banget.) hiks-hikskih.. ga papa mungkin ini ynag harus ku terima dosa besar dan kesalahan di masa prapaskah tahun ini. Ayo terus bangit katanya mau berubah. Gila aku bakalan jadi artis top se PL.


Sore…

Pulang sampai rumah dengan selamat, aku masih punya impian untung aja aku gak bunuh diri di jalan. Pulang-pulang baca buku. Terus siap-sipa nonton teater.

Dunia sempit

Malem minggu nonton teater di salah satu gedung di Kota baru. Waktu aku dah mpe sana sepi ya ternyata rame banget. Ceritanya jelek banget ra nyambung. Eh yang lucu pemainnya celananya sobek semua penonton ketawa. Ngantuk je.. tidur aja mumpung gelap. Pulangnya gila ketemu anak-anak yopala ya udah gila aku nutupin muka dan lari cepet-cepet. Mereka pakai nongkrong di depan pintu P****t. gue cepet-cepet jalan dan pergi meninggalkan TKP. Gak tahu ketahuan gak ya..

Sunday, August 26, 2007

Terima kasih...

kesadaran ku kini tumbuh saat di memutuskan harapan yang dulu di ucapkannya ,,,makasii ya... kamu dah buat aku semangat lagi walau aku sempat kecewa ma diriku sendiri ,,,
saat kau hadir kau memberi aku warna yang lebih terang tuk melangkah ,,,

walaupun aku tak tahu kau mau baca ini pa ga yang penting makasii....
hanya itu yang bisa ku ucapkan

Wednesday, August 22, 2007

mencoba itu kadang tidak menarik...

ngomong opo yo, ya wis lah iki wae...

jenenge ae nyoba...